Skip navigation

Tulisan ini bercerita tentang Grameen Bank, dari Bangladesh. Karena cukup panjang, saya memisahkan tulisan ini sehingga hanya dapat dibaca pada halaman tunggal. Silakan melanjutkan bacaan anda.

Muhammad Yunus, seorang Profesor berkebangsaan Bangladesh merasa prihatin dengan kemiskinan yang melanda negerinya. Kemiskinan itu bahkan bisa terlihat nyata di desa yang bersebelahan dengan universitas tempatnya mengajar. Beliau merasa teori-teori ekonomi yang diajarkannya di kelas tidak pernah memberikan kontribusi untuk mengentaskan kemiskinan.

Dari sini Muhammad Yunus tergelitik melakukan studi terhadap masyarakat miskin, mulai dari desa di sekitar Universitas, untuk mengetahui seberapa besar uang yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat miskin untuk bisa bertahan hidup satu hari. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Untuk sekian keluarga (lupa persisnya), mereka hanya membutuhkan sekitar 1 koma sekian dolar saja. Terkejut dengan hasil ini, saat itu juga Muhammad Yunus langsung mengeluarkan sedikit uang dari dompetnya untuk diberikan kepada rakyat miskin tersebut. Hal ini diulangi lagi pada hari-hari selanjutnya.

Kemudian Muhammad Yunus mulai memikirkan cara untuk mengatasi kemiskinan di negaranya. Salah satu permasalahan yang diketahui dari studi itu adalah bahwa masyarakat miskin akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup. Mereka mungkin menjadi buruh, membuka usaha kecil-kecilan, bekerja serabutan seperti menganyam rotan untuk dijual di pasar, dan banyak lagi. Tapi lapangan kerja untuk mereka hampir tidak ada, mengingat tingkat pendidikan yang mereka punya sangat rendah (lebih tepatnya, sebagian besar buta huruf). Sedang untuk membuka usaha sendiri, modal sulit didapatkan.

Untuk mendapatkan modal (dan meminjam uang secara umum), masyarakat miskin saat itu bergantung pada rentenir. Rentenir meminjamkan uang kepada orang miskin dengan bunga terlalu tinggi. Pun kemudian, hasil usaha yang mereka buat dibeli sendiri oleh rentenir itu dengan harga rendah. Sehingga keuntungan yang seharusnya bisa mereka pergunakan untuk hidup tidak tersisa karena habis digunakan untuk membayar hutang plus bunga kepada rentenir.

Satu langkah yang sangat jelas bagi Muhammad Yunus saat itu adalah cukup dengan memberikan pinjaman ringan sebagai modal kepada masyarakat miskin ini, mereka punya peluang untuk dapat bertahan hidup setiap hari. Maka mulailah Muhammad Yunus mencari institusi yang mau meminjamkan uang untuk masyarakat miskin ini. Ironis, dan tidak mengherankan, tidak ada yang bersedia memberikan pinjaman karena pertimbangan resiko yang terlalu besar. Untuk mendapatkan pinjaman untuk rakyat miskin itu, akhirnya Muhammad Yunus menawarkan dirinya sebagai penjamin. Bank bersedia. Pada kenyataanya pinjaman itu dapat dikembalikan dengan tepat waktu.

Sekalipun riwayat pinjaman oleh masyarakat miskin baik, bank-bank masih menganggap resiko yang ditanggungnya besar dan tetap enggan memberi kepercayaan kepada mereka. Merasa tidak cukup dengan cara yang sudah dilakukannya selama itu, Muhammad Yunus mengambil keputusan drastis. Dia mendirikan sebuah bank (lebih tepatnya institusi finansial, pada awalnya…sepertinya) yang fokus memberikan pinjaman lunak jangka panjang berbunga rendah untuk rakyat miskin (kredit mikro). Bank itu diberi nama Grameen Bank. Grameen adalah kata dalam bahasa Bangladesh untuk “miskin”, sehingga Grameen Bank secara harfiah berarti bank untuk yang miskin.

Dengan idealismenya, mencari modal untuk mendirikan bank ini sangat sulit. Muhammad Yunus juga tidak dapat meyakinkan pemerintah untuk mendukung langkahnya. Akhirnya modal yang dibutuhkan diperoleh dari uang nasabah yang disimpan di bank itu. Artinya, saham Grameen Bank dimiliki oleh seluruh nasabahnya. Sebuah langkah yang cukup unik dan tidak akan pernah diterima dalam sistem ekonomi konvensional (mungkin maksudnya, kapitalis?).

Grameen bank tidak hanya menjadi kreditur bagi para peminjam. Bank ini secara tidak langsung juga mengajarkan peminjamnya cara mengelola keuangan melalui mekanisme peminjamannya, seperti berikut:

  1. Untuk meminjam uang, kreditur harus membentuk kelompok. Sejumlah uang yang dipinjamkan ini akan dibagi sesuai dengan kesepakatan kelompok itu. Dengan modal yang diterima, setiap anggota menjalankan usaha yang dapat dilakukannya. Lupa persisnya bagaimana. Kalau tidak salah tujuannya adalah untuk menumbuhkan tanggung jawab kolektif, di mana anggota dalam kelompok saling mengingatkan satu sama lain. harus cari sumber lagi…
  2. Peminjam diwajibkan membayar cicilan pinjamannya setiap hari. Dengan demikian cicilan yang dibayarkan tidak terlalu besar dan tidak akan memberatkan si peminjam di kemudian harinya.
  3. Tidak tahu persis langkahnya seperti apa, tetapi Grameen bank juga berkomitmen mengentaskan buta aksara bagi para nasabahnya.

Semua ini dijalankan hanya berbekal kepercayaan antara nasabah pada bank (karena simpanan mereka digunakan sebagai modal) dan sebaliknya (karena modal dari nasabah dipinjamkan lagi ke orang lain). Meski demikian bukan berarti seleksi peminjaman tidak dilakukan secara ketat. Tapi seperti apa proses seleksi yang dilakukan tidak begitu saya ketahui.

Muhammad Yunus dan mahasiswanya juga menemukan fakta umum di negerinya bahwa wanita sangat sulit mendapatkan pinjaman. Karena itu, Grameen bank juga berkomitmen memberikan kesempatan yang setara pada wanita untuk memperoleh pinjaman. Kesetaraan ini dicapai secara perlahan. Di awal berdirinya masih belum banyak wanita yang (diijinkan atau bersedia?) meminjam. Setelah sekian tahun berjalan, rasio 1:1 antara peminjam pria dan peminjam wanita hampir tercapai.

Ketika rasio itu hampir tercapai, Grameen Bank melihat bahwa manfaat yang diberikan bagi keluarga peminjam (jauh?) lebih besar apabila peminjamnya adalah wanita. Anak-anak di keluarga bisa makan, mendapatkan pakaian, dan bisa sekolah, adalah dampak positif dari peminjam wanita. Hal ini terjadi karena wanita lebih terlatih (dan akhirnya terampil) mengolah keuangan keluarga yang sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan suami yang sangat terbatas.

Grameen bank lalu mulai mengubah fokus pemberian pinjamannya pada wanita, dengan harapan langkah itu bisa mempercepat pengentasan kemiskinan. Langkah ini bukan bermaksud mengindikasikan bahwa peminjam pria lebih buruk dalam mengembalikan pinjamannya, karena menurut Muhammad Yunus baik peminjam pria maupun wanita sama-sama mampu mengembalikan pinjamannya dengan baik. Langkah ini diambil semata karena faedah yang diberikan wanita pada keluarganya. Pada akhirnya, 90% lebih (lupa persisnya) peminjam Grameen Bank adalah wanita.

Kini, Bank Grameen sudah meraih “prestasi” besar dalam mengentaskan kemiskinan di negaranya dan menjadi inspirasi bagi negara-negara lain. Sistem kredit mikro yang diterapkan Bank Grameen dicontoh oleh bank-bank lain di penjuru dunia. Dan atas kerja keras dan inisiatifnya, Grameen Bank yang diwakili oleh Muhammad Yunus dianugerahi hadiah Nobel pada tahun 2007.

Berikut ini “prestasi” yang diraih oleh Grameen Bank:

  1. Tingkat pengembalian pinjaman sebesar 99% (tidak tahu sejak tahun berapa, sepertinya dari awal sudah sebesar ini).
  2. 90% lebih peminjam Grameen Bank adalah wanita. Prestasi ini dapat dianggap sebagai usaha positif untuk mendukung penyetaraan gender.
  3. Nasabah (peminjam?) Grameen Bank bebas buta huruf.
  4. Semua anak dari nasabah (peminjam?) Grameen Bank bersekolah.
  5. Grameen bank juga menyediakan pinjaman siswa (student loan) untuk menempuh pendidikan tinggi bagi siswa berprestasi.
  6. 64% nasabah (peminjam?) Grameen Bank berhasil keluar dari kemiskinan.
  7. Pada tahun 2006, Grameen Bank berhasil membukukan pengembalian deviden 100%.
  8. Grameen bank memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi untuk rakyat miskin. Perusahaan ini tidak hanya membuka jalan bagi rakyat kecil untuk menikmati telekomunikasi, tapi juga membuka lapangan usaha baru bagi rakyat miskin (ingat, lapangan usaha, bukan sekedar lapangan kerja).

Meski dengan prestasi demikian dan banyaknya tanggapan positif atas Grameen bank, langkah Grameen bank masih tidak banyak ditiru oleh bank, negara lain, lembaga internasional, bahkan oleh pemerintahnya sendiri. Menurut Muhammad Yunus, cara-cara pengentasan kemiskinan yang selama ini didengungkan oleh berbagai pihak tidak pernah benar-benar menyentuh rakyat miskin. Rakyat miskin seharusnya menikmati keuntungan secara penuh, bukannya ada sebagian keuntungan yang mengalir untuk “pemilik” “usaha pengentasan kemiskinan”. Dengan sistem ekonomi (perbankan?) konvensional, rakyat miskin tidak pernah punya kesempatan untuk menjadi kaya (makmur?).


Berikut ini kutipan-kutipan dari acara televisi yang mewawancarai Muhammad Yunus, antara lain dari Oprah Show dan Metro TV…(MDGs?).

  1. “Dengan sistem bank (ekonomi?) konvensional, mereka tidak pernah memiliki (diberi?) kesempatan untuk menjadi kaya.”
  2. “Modalnya hanya kepercayaan.”
  3. “Pria ataupun wanita sama baiknya dalam mengembalikan pinjaman.”
  4. “Dari pinjaman yang diberikan, wanita memberikan manfaat yang lebih besar kepada keluarganya daripada pria. ini karena wanita lebih terlatih mengatur keuangan rumah tangga dalam kondisi finansial yang minim.”
  5. “Tahun 2006, Bank Grameen berhasil mengembalikan dividen 100%.”
  6. “Tingkat pengembalian pinjaman sebesar 99%.”
  7. “64% nasabah Grameen Bank keluar dari kemiskinan.”
  8. “Semua nasabah Grameen Bank sudah bebas buta huruf.”
  9. “Semua anak-anak nasabah grameen bank menyelesaikan sekolahnya.”
  10. “Grameen Bank juga menyediakan beasiswa untuk menempuh pendidikan tinggi bagi anak-anak berprestasi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: