Skip navigation

Dimulai dari tulisan dari detikinet yang mempertanyakan untuk apa dana pemeliharaan server KPU sebesar Rp.1,8 Miliar, kalau akhirnya sistemnya kacau. Tulisan itu membentuk opini seolah-olah ada ketidakprofesionalan dan penyelewengan dana.

Yang mengagetkan Saya adalah bahwa pihak yang bertanggung jawab dalam pemeliharaan server KPU, yang jadi tertuduh, adalah PT. LAPI-Divusi. Sepengetahuan Saya, orang-orang Divusi terdiri dari kumpulan orang-orang teknis, bukan orang-orang ber-mind set bisnis. More likely geeks, if I may say.

Kenapa Dana untuk Pemeliharaan saja Semahal Itu?

Menurut pihak Divusi, suku cadang server sudah sulit dicari karena sudah tidak ada support dari HP Indonesia untuk seri server yang digunakan, sehingga harus memesan khusus dari Singapura. Selain itu dananya juga dipakai untuk jasa tenaga teknis khusus untuk mesin itu. Banyak orang yang meragukan alasan ini. Juga banyak yang berpendapat bahwa tidak perlu mesin mahal-mahal  untuk keperluan IT Pemilu, mesin sekelas toko Glodok pun cukup.

Ada tiga hal yang perlu diketahui dan dicermati,

  1. Kebutuhan IT untuk kelas enterprise tidak cuma soal adanya barang, tapi juga support seperti maintenance, repair, atau trouble-shoot, dalam jangka panjang, oleh pakar dengan keahlian yang kredibel (bersertifikat.) Secara umum, support seperti ini tidak bisa diberikan oleh toko-toko eceran sekelas Glodok atau Harco. Apalagi keperluannya untuk skala nasional dan critical.
  2. Kalau prinsipal HP Indonesia saja sudah mengakhiri masa support untuk seri mesin tersebut, patut dipertanyakan pada panitia Pemilu 2004 apakah mesin yang digunakan untuk Pemilu 2004 adalah seri mesin terbaru? Jangan-jangan pada tahun 2004 pun mesin itu sudah termasuk mendekati masa uzur.
  3. Suku cadang mesin server tidak seperti PC jangkrik  umumnya. Jangankan server, PC desktop bermerk pun kadang memiliki spesifikasi unik yang sulit dicari penggantinya. Mungkin kasusnya lebih mirip kalau dibandingkan dengan spare-part laptop daripada PC.

Kenapa Tidak Beli Baru Saja?

Karena sudah rahasia umum bahwa pengadaan barang adalah sasaran empuk untuk melakukan mark-up. Mungkin kalau jadi membeli server baru, publik pasti akan lebih mencak-mencak setelah tahu biayanya.

Selain itu, Pak Benny dari pihak Divusi juga menegaskan bahwa kondisi server yang ada masih layak pakai, dan banyak. Pak Benny setahu Saya punya pengalaman bertahun-tahun dalam set-up dan mengurusi server, dalam skala besar pun.

Sebenarnya Apa Masalahnya?

Sistem IT Pemilu tidak hanya terdiri dari mesin server saja. Masih ada persoalan perangkat lunak, infrastruktur jaringan, prosedur-prosedur standar (SOP), dan grand design arsitektur IT itu sendiri. Tadinya Saya malah lebih khawatir dengan infrastruktur jaringan, karena dalam sistem critical peluang kegagalan yang disebabkan masalah jaringan menjadi jauh lebih besar.

Ternyata menurut pengakuan Pak Benny, masalahnya ada pada aplikasi perangkat lunak yang menghitung suara yang tidak siap. Hingga hari Sabtu pagi, dua hari setelah pemilu, aplikasi itu belum juga selesai di-deploy di server. Kalau benar itu terjadi, maka Saya bisa mengerti kenapa masalahnya jadi kisruh.

Bagi orang yang tidak menjalani dunia software development (tidak kerja koding), yang paling mudah pertama kali disalahkan atau disangka rusak ketika muncul masalah adalah barang yang tampak, mesin. Dan demikianlah opini yang ditangkap oleh reporter detikinet, yang bersumber dari pernyataan anggota tim IT KPU, Hemat Dwi Nuryanto. Apa saudara Hemat orang yang tidak paham soal ini? Saya rasa tidak. Lalu kenapa pernyataannya demikian? Saya tidak tahu persis.🙂

Opini negatif lebih mudah termakan oleh publik daripada opini positif. PT. LAPI-Divusi mendesak diadakannya audit IT untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah. Tapi jika sekalipun mereka terbukti sudah bekerja secara profesional, tidak mudah mengubah kesan miring yang terlanjur berkembang. Dan apakah pihak detik bersedia meluruskan opini yang sudah terbangun, atau setidaknya mempublikasikan hasil audit kalau pihak Divusi yang benar? Saya rasa kecil kemungkinannya, kecuali kalau sampai terkait proses pengadilan, yang berarti bahan berita baru.

One Comment

  1. coba cek disini *kali aja blm nyampe* http://arifrahmat.wordpress.com/2009/04/12/h3-pemilu-legislatif-2009/

    disitu disebutkan dua posisi bottleneck😀 ttg yg orang2 (Divusi vs Hemat) ributkan masuk di posisi yg mana?😛
    OOT: DMR juga ikut serta mensukseskan Pemilu jg kah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: